Sedikit mencoba mengulas makanan kali ini. Hmmm…mendadak lapar, padahal baru ngebayangin doang
… Daerah Kalimantan Timur cukup kaya akan jenis kuliner yang menurut gua agak kurang terekspos sampai ke Jakarta. Kenapa Jakarta ? Ya karena ada pepatah bilang “jual apa aja di Jakarta pasti laku..” Ironisnya, belum pernah gua temuin tuh makanan yang khas di Kalimantan Timur di jual di Jakarta (apa karena gua ga gaul kali yeee
). Baiklah tanpa panjang lebar, kita kupas satu per satu (buah kalii dikupas..)
1. Dendeng rusa.
Kalimantan timur tergolong provinsi yang masih kaya akan hasil hutan, termasuk kayu, rotan dan berbagai jenis hewan yang layak konsumsi seperti rusa, kancil, kerbau liar, dll. Kenapa hewan tersebut layak di konsumsi (setidaknya bagi masyarakat lokal), menurut gua sih karena mahalnya moda trasnportasi di sana dengan kondisi jalan yang belum semulus di Jawa. Walhasil, harga daging dari rumah jagal pun melambung tinggi karenanya untuk sampai di konsumen yang notabene hidup di banyak pelosok Kalimantan. Di daerah yang kebetulan sering gua datangin yaitu Bengalon (kayanya di atlas nasional pun belum nongol tuh..hehe..), meskipun tidak banyak namun mata pencaharian sebagai pemburu rusa cukup layak sebagai sumber penghidupan yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia (jauh diatas standar biaya hidup Jakarta). Dendeng rusa sebagai salah satu output akhir dari rusa merupakan barang ole-ole yang cukup dicari di Bengalon. Meski hanya berbentuk gumpalan daging yang sudah menghitam (akibat proses pemanggangan) dan berbalut lumuran garam halus, yang sangat-sangat tidak indah rupanya namun dendeng rusa akan mencapai puncak kenikmatannya saat di goreng secara sempurna..hmmmm…. Kekenyalannya sendiri sangat bergantung pada umur rusa, maksudnya semakin muda rusa, semakin empuk pula daging dendeng nantinya. Lalu timbul pertanyaan, sampai kapan rusa-rusa itu akan bertahan kelangsungan hidupnya jika tidak dikembangbiakan atau dipelihara dalam konsep konservasi. Dari informasi di pasar, gua melihat harga dendeng cenderung meningkat drastis akibat semakin sulitnya perburuan menemukan hasil. Dengan merambahnya populasi penduduk di pelosok-pelosok hutan, semakin tersingkir pula populasi rusa di Kalimantan Timur umumnya, dan Bengalon khususnya. Sepertinya ini harus menjadi pe-er bapak-bapak di pemerintahan kali ya..supaya dendeng rusa bisa tetap bisa kita nikmati dengan harga terjangkau ..*lho..kok concernnya malah ekonomis bukannya konservasi?*
Oh ya..sekedar sharing nich..daging rusa sangat tidak kalah nikmatnya jika diolah menjadi tongseng, sate bahkan dibuat steak sekalipun… Tentang resepnya..nanti akan diulas di tulisan berikutnya *hayaaahhh..*
2. Gula aren
Selain sebagai bahan dasar dari tuak (sejenis minuman keras hasil fermentasi getah aren), getah aren juga populer disajikan sebagai gula padat (biasa disebut gula merah). Salah satu manfaat gula merah berbahan getah aren ini sangat baik untuk dikonsumsi bagi penderita gangguan pencernaan atau maag. Penduduk lokal percaya, mengingat sifatnya yang absorben (menyerap cairan) sehingga mampu menyerap racun dan gas yang mengganggu dalam pencernaan.
3. Beras ladang
Meski sama-sama bernama beras, beras ladang sangat jauh berbeda rasanya dengan beras sawah. Beras yang ditanam di ladang berpindah ini jauh lebih pulen daripada beras sawah meski tumbuh di lokasi tanpa air. Lokasi penanaman biasa di lereng-lereng bukit dengan kemiringan lahan yang cukup drastis sehingga air tidak akan menggenang yang malah akan mengganggu pertumbuhan padi ladang ini. Seiring dengan pembukaan lahan ini berdampak pada maraknya ilegal loging guna memenuhi kebutuhan akan lahan tanamnya. Hmmm… lagi-lagi konsep konservasi malah jadi batu sandungan untuk sesuatu yang dinanti penikmat kuliner *khususnya saya..* Ohhh.. i miss this rice so much..*lebay
*
Sepertinya cukup dulu ah mengulas kerinduan akan ole-ole ini. Mohon maaf belum bisa tampilkan foto-fotonya. Mungkin kesempatan jalan-jalan ke sana yang akan datang, gua sempatin *kalo pas ada barangnya* buat ambil gambar deh.. Eh kok macam orang curhat aja nich ?
Anyway..salah satu prinsip gua dalam melakukan perjalanan khususnya ke tempat-tempat baru adalah.. lu belum pernah ke tempat itu kalo belum makan makanan khas nya.. Jadi, jangan lupa untuk selalu cari makanan khas setiap daerah yang kalian kunjungi *sotoyyyy..banget ya gua?* Ciaoooo..happy hunting ole-ole *baca: makanan khas*


Pagi tadi, gua kaget..sewaktu enak-enaknya makan nasi uduk langganan di stasiun, tiba-tiba ibu sebelah yang memesan gorengan menolak pesanannya yang sudah dibungkus kertas pembungkus makan *yang warna coklat glossy itu lho..* untuk dibungkus (lagi) dengan plastik. Yang bikin gua takjub, dia bilang “ga usah dibungkus plastik lagi mba..biar sampah Jakarta ga makin numpuk” Saluuuttt….bravoo… Trus gua sendiri gimana? *mikir.com* Apa yang udah gua lakukan untuk mengurangi sampah ?

a. Cannabinoid
Beberapa hari terakhir, saya menonton cukup sering tayangan tentang kisruhnya hukum di Indonesia. Lebih tepatnya mungkin kisruh lembaga aparatur negara dalam koridor hukum. Sebagai orang awam hukum, saya terus terang bingung dengan apa yang terjadi. Bukankah sudah merupakan hal biasa jika beberapa pihak bekerjasama dalam konteks profesionalisme mengalami benturan atau friksi. Jangankan lembaga pemerintahan, contoh kecil di organisasi swasta (perusahaan) sering kita temukan kisruh model sejenis. Yang membedakan adalah lingkup kerja dan tanggungjawab sosialnya. Karena aparat pemerintah bekerja dalam pelayanan publik, maka secara gamblang publik berhak untuk mengikuti perkembangan apa yang sedang terjadi. Disini saya membatasi hanya pada beberapa issu yang cukup berkembang dan menjadi pergunjingan sampai kasus ini terus bergulir yaitu: rekayasa, people power dan transparansi.
Setiap hari di stasiun kereta saya selalu melihatnya. Diantara penumpang antri yang semerbak wangi, dia, dengan pakaian kumelnya yang sama sekali tidak menandakan bahwa dia bekerja untuk pihak stasiun. Setiap pagi selalu dengan aktifitas yang sama, membersihkan rel kereta api dari apa saja. Terkadang saya melihatnya sedang mencabuti rumput, hari yang lain mengambil sampah dan puntung rokok, hari lainnya lagi membersihkan baut rel yang berkarat sambil mengolesinya dengan pelumas.
komentar terakhir