Budget traveler

•Januari 14, 2010 • & Komentar

Just want to share my last travel budget to bali. Hope someone might need this as their budget plan trip too. Well, I started my travel from jakarta’s airport (Soekarno Hatta International Airport). I took a mandala airlines as this is the cheapest one during the peak-season. My departed schedule was january 1st 2010 and the airport situation was so quite and slow. No people was in a rush, maybe the busiest clan still on “hang over” condition after the new year’s eve party :) . Anyway, the Mandala itself have the Terminal 3 as they operation base which is full of new facilities and totally different architecture than the others terminal. My first impression is: high-tech, simple, giant and classy building.

Day 1

Airport tax : 40k

Coffee @ J-co donut : 30k

Taxi (Ngurah Rai Airport to Legian) : 150k. I took a blue bird chartered minibus (kijang innova) because the others taxi refused to took me to legian since the traffic was absolutely jam at that time (5.00 pm).

Dinner : 15k

Smoke & snack @ circle K : 40k

Hotel check in: 100k. actually, i have paid my whole bill for hotels in advance. I took fourteen rose hotel @ legian that I got from my travel agent. I already paid for 345k per nite for standard room (tv, ac, twin bed) for the next 4 day. Since I don’t have any idea about what is it like, I have a bit disappointed for the room I’ve got. It was too spooky and dark . So, i complained my travel agent to have replace me to another room that seems they still have, I don’t care if I have to pay more for the upgrade room class. After negotiation process, they gave me an upgrade one with another 100k in addition.

Dinner : 55k. Quite expensive but the food is good. I ate seafood fried rice for the dinner but i forgot what’s the name of the restaurant at this Legian street. Just take 5 minute walked from my hotel to this restaurant.

Day 2

Car rent : 275k. Include: driver, gasoline for the next 10 hours.

Entry ticket to Pura Bedugul @ lake Beratan : 10k.

Lunch : 30k. I ate the famous ayam taliwang near the Beratan lake.

Foot massage @ Pecatu beach (also well known as a dream land)

Entry ticket to Uluwatu : 10k.

Dinner @ Jimbaran beach: 150k. This is the most expensive food that I have during this Bali trip. :D but, the view is awesome.. ate at the sand beach of Jimbaran with the straight to the sea night viewed.

Smoke & snack : 25k.

Hotel extend : 100k.

Day 3

At this day, my focus is on water sport activities at Tanjung Benoa. The trip took only 20 minute through the by pass road from Kuta region to Tanjung Benoa.

Watersport packages : 275k. This package are: banana boat, flying fish, glass bottom boat to turtle island, diving. Almost took a whole day since long queuing of people for such activities.

Lunch : 20k @ Padang restaurant near Tuban.

Dinner : 40k @ famous Warung Made’s at Kuta. Cool atmosphere..old fashioned traditional cafeteria interior.

Smoke, snack, soft drinks : 40k.

Hotel extend : 100k.

Car rent : 275k.

Bike rent : 60k.

Day 4

Surf board rent : 35k. You have to pay around 100k for basic lesson from the beach boys instructor.

Lunch : 25k. Regular KFC menu at Kuta Discovery mall.

Car rent : 275k.

Airport tax : 35k.

This is it..and the trip is over… and I get all Black covered my body :D Hoping will get back there soonest as possible..

Kasus penculikan bayi di puskesmas

•Januari 12, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Satu kata yang terlintas di kepala saya : GILA ! Mereka (penculik) sudah dengan beraninya mengobok-obok salah satu “pusat pelayanan masyarakat” (baca: puskesmas) dan dengan santainya melenggang membawa “hasil jarahannya”. Apakah sudah tidak sedemikian nyamannya sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat dengan tugas utama sebagai pelayan masyarakat namun dilain sisi mengesampingkan keamanan asset dan pelanggannya? Mungkin pihak puskesmas merasa bahwa tugas utama mereka hanya melayani masyarakat sebatas kebutuhan medis saja tanpa adanya tanggungjawab mengamankan seluruh isi puskesmas (asset, karyawan, dokter, perawat, pasien, dll). Atau mungkin (lagi..lagi..) puskesmas merasa bahwa tanggungjawab keamanan adalah murni tanggungjawab pasien dan aparat keamanan tentunya. Mohon klarifikasi jika memang ternyata tanggungjawab puskesmas hanya sebatas pelayanan medis saja.

Hanya saja, sebagai masyarakat awam tentunya saya merasa khawatir bila hal ini tidak ada langkah perbaikan yang signifikan membuat puskesmas sebagai tempat yang benar-benar aman dan nyaman bagi seluruh pasiennya. Sangat disayangkan jika icon sebuah tempat pelayanan publik yang notabene penuh dengan kesan warna putih (yang artinya : suci) malah tersentuh oleh tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab dan biadab demi keuntungan oknum.

Mohon info tips ke Dieng please…

•Januari 6, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Daftar pertanyaan :

1. Lebih enak menempuh rute mana untuk ke Dieng dari Jakarta? *yang tercepat tentunya* Karena tujuan utama adalah Golden Sunrise-nya. Pilihan saya: jalur KA, bus, atau pesawat (cgk-jog) kemudian lanjut ke Dieng via darat.

2. Mohon update trend cuaca di Dieng, apakah belakangan ini memungkinkan untuk melihat Golden Sunrise? Khawatir nanti ternyata hujan di pagi hari dan cakrawala berawan hitam tebal.

3. Jika ada nomor telepon penginapan atau losmen di kawasan Dieng.

4. Apakah memungkinkan menempuh perjalanan Jakarta-Wonosobo (pp) dalam waktu 3 hari 2 malam efektif dengan tujuan Golden Sunrise tetap tercapai?

Your kindly information will be highly appreciated.

Thank you..

2009-2010

•Desember 28, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

2009.

Tak banyak yang membekas di tahun ini. Itu pun sangat – sangat tidak terlalu membanggakan. Semua berlangsung biasa-biasa saja.

Trip, tidak ada yang menonjol selain perjalanan dinas yang menyita perhatian ketimbang meng-eksplore daerah kunjungan tersebut. Visit a new place, mungkin lebih tepat. Karena lumayan banyak daerah kunjungan yang saya belum pernah datangi sebelumnya. Meski tidak banyak memberi dampak, sekedar berharap mudah-mudahan nanti dapat mengunjungi lagi daerah itu dalam suasana lain tentunya diluar suasana dinas yang kental dengan berbagai birokrasi dan aturan mengikat lainnya.

Culture shock, ini yang luar biasa saya rasakan sebagai dampak dari berpindah kerja dari lokasi site di pelosok Kalimantan ke ibukota Jakarta. Padahal saya lahir dan besar di lingkungan keluarga yang cukup nomaden, tetap saja kehebatan beradaptasi terhadap lingkungan saat ini memerlukan ilmu yang lebih paten dari yang saya miliki selama ini.

Dari gelap gulita nya malam ke malam hingga masa cuti tiba, mendadak berada di tengah sesaknya sarana commuter dan macetnya jalan menjelang hari kerja usai setiap harinya. Dari suara jangkrik yang mulai menggeliat keluar sarang sejak petang hingga subuh, hingga hiruk pikuknya suara-suara teknologi dalam mall yang menjual berbagai type handphone, tv, sound system dan perangkat elektronik lainnya.

Hal ini cukup membawa perubahan bagi saya yaitu update berita dan gosip. Dari yang tidak peduli akan apa saja yang terjadi karena berada jauh dari pusat kejadian (baca: Jakarta), sampai memonitor setiap perkembangan berita dan kasus yang beredar di seluruh media. Bukannya mau sok-sok gaul, tapi memang karena cuma itu yang bisa lakukan untuk dapat tetap bisa bersosialisasi di Jakarta atau dianggap kuper (kurang pergaulan) padahal saya sangat-sangat tidak peduli mau dibilang kuper atau tidak. Toh saya hanya butuh teman bersosialisasi sebagai manusia sosial tentunya.*kenapa jadi melantur begini nich omongan??*

Walhasil dari statistik pertemanan saya, (lagi-lagi ini baru bisa saya lakukan di 2009), sekitar 300 sekian orang mengaku dan telah meproklamirkan diri menjadi teman saya di situs jejaring sosial f*****k (kebangetan deh kalo ga tau ini..:D). So far..mungkin ini salah satu yang cukup bisa saya banggakan terkait my achievement of 2009. Hahahaha…. Dan tentu saja, saya mulai memproklamirkan diri sebagai seorang blogger di wordpress juga salah satunya. Meskipun terdaftar di wordpress sejak 2008, baru kira-kira awal 2009 saya mulai corat-coret menuh-menuhin kapasitas server nya WP. *maaf ya WP admin..*.

to be continued….

Ole-ole Matak

•Desember 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berhubung cuma 2 hari jatah kunjungan ke pulau yang merupakan salah satu pulau dari komplek kepulauan Natuna, propinsi Kepulauan Riau, sangat-sangat minim ole-ole yang bisa saya dapatkan, selain pengalaman boarding jam 3 pagi di Halim-Jakarta, get rest @ one of big oil company camp, company site sightseeing, nongkrong di desa yang ga ada kantor desanya (baca: tidak tersentuh “tangan-tangan” pemerintah).

Matak, sebuah pulau yang merupakan bagian dari kepulauan Natuna, kabupaten Anambas yang menurut issu yang saya dengar malah belum definitif menjadi sebuah kabupaten. So..ya belum ada lembaga pemerintah sama sekali seperti DPRD dan yang lainnya. Pertanyaan pertama saya saat mengetahui ini, lantas bagaimana mengurus KTP di sebuah daerah yang belum jelas nasib sosial pemerintahannya? Iseng-iseng saya berjalan ke sebuah warung yang berada persis di depan camp tempat saya menginap dan menanyakan kepada si penjaga warung, “Pak, disini banyak motor, tapi ga ada plat nya, ngomong-ngomong plat nomor daerah ini apa ya?” Si empu nya warung hanya bisa menggeleng dan menjawab seadanya dengan logat melayu nya yang sangat kental. Hebat, saya membathin. Seandainya saya seorang konglomerat, saya akan beli Albatros (baca: jenis kapal terbang yang bisa mendarat di air) dan patok tanah disini sesuka hati lantas membangun villa persitirahatan yang super luas… hahaha.. Dibanding dengan luas pulaunya yang saya belum sempat putari namun hanya dapat saya lihat dari atas pesawat, jumlah penduduk disini masih sangat sedikit dan (lagi-lagi) tidak jelas tercatat pada catatan sipil atau tidak (mungkin tidak seluruhnya). Layaknya orang gelap (baca: tidak terdaftar), ya..gelap sehitam Djarum Black. Meski kesan dan rasa benar-benar berbalik dengan Djarum Black yang penuh sensasi dan semangat dinamis. Disini (Pulau Matak), semua terasa begitu lambat dan stagnan. Transportasi penduduk nampaknya hampir cuma mengandalkan sepeda motor dan sebagian perahu (baik bermotor maupun tidak). Dengan jalan beton yang hanya selebar 2 meter menghubungkan kantong-kantong hunian yang didiami penduduk lokal. Saya hanya tersenyum saat beberapa orang di warung tempat saya menghabiskan sore pertama saat saya bertanya ” Pak kalo ke ujung sana itu kemana?” “Itu ke desa “anu” (saya sangat sulit menghapal nama), kalo ke sana itu ke desa “anu”. Apa bedanya? Toh memang tidak ada petunjuk apapun kecuali informasi dari mereka (penduduk lokal). What ever lah.. yang penting saya cukup menikmati keheningan suasana pulau di ujung Indonesia ini.

Meski cuma 2 hari berada di Matak, hal ini tetap merupakan pengalaman berharga bagi saya. Beruntung lebih tepatnya. Di saat sebagian penduduk Indonesia masih kesulitan mendapatkan BBM yang seharga Rp.14.000,- untuk seukuran 1,5 liter botol air mineral, disaat tak ada pasokan listrik tak menhampiri rumah penduduk baik siang maupun malam, disaat harus bersampan selama 1 jam untuk sebuah ijazah SMA yang entah akan dipergunakan untuk apa, disaat waktu terasa sangat lambat bergerak menuju perubahan bagi kemajuan sebuah bangsa. Bangsa Indonesia?? Mungkin tidak bagi mereka (penduduk ). Bukti tidak pentingnya berstatus sebuah bangsa sangat terasa mereka alami. Mungkin saja tahun depan mereka tidak lagi tahu apa itu Indonesia Raya, Ibu Kita Kartini, Proklamasi, Sumpah Pemuda dan atribut kebangsaan lainnya.

Back to the real world

•Desember 23, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah 2 pekan berlibur meski tanpa sedikitpun kegiatan liburan dilakukan, hari ini, genap hari kedua mulai kembali beraktifitas rutin alias nguli demi seonggok berlian idaman. Entah sampai kapan onggokan itu akan terus menjadi idaman sebelum nyata. Setumpuk outstanding sudah menanti dan cenderung mengganggu pikir, namun tetap saja ada satu yang menarik dari sekian banyak “bahan cangkulan” itu.

Dan entah kenapa, lagi-lagi dalam hujan yang mengguyur pagi ini, semangat itu pun tumbuh lagi. Diiringi rintik hujan, kulalui detik  pertama kerja (lagi) dengan semangat adventurous. Seperti Djarum Black. Hitam, misteri, adventure. Karena ini hal yang benar-benar baru buat ku. Visit ke sebuah proyek offshore sebuah perusahaan migas asing di kepulauan Natuna membuatku gelisah bak bocah menanti hari khitannya esok. Khitan memang menyakitkan namun terlalu banyak kado dan angpau yang sayang untuk dilewatkan begitu saja dengan deraian air mata pesakitan. Sampai waktu keberangkatan pun yang tinggal beberapa jam lagi kuhabiskan dengan menulis ini.

Berangkat : 02.30 wib

Cek in : 03.00 wib

Boarding : 04.00 wib

Wussss……. semoga penerbangan 2 jam 45 menit dengan Dash 8 nanti terlewati dengan aman dan nyaman, bathinku. Semoga perjalanan esok, hujan tetap menyejukkan dan menenangkan bathin meski bagi si pilot, ia tetap lah momok dalam tugasnya. Amin.

Buku nasib

•Desember 20, 2009 • & Komentar

Ya..buku nasib ku memang teramat aneh *baca: hokkie bukan makanan lho..* Gimana ga hokkie..Hampir seluruh perjalanan ku menuju seluruh halte kehidupan ku tak pernah kurasa ada effort luar biasa hingga mencapai halte sekarang *baca: saat ini*. Bukan berarti aku tidak berusaha, hanya mencoba menikmati aja semua yang terlewati hingga tidak terasa luar biasa. Semua nya biasa saja bagi ku, yang luar biasa hanyalah kuasa dan kehendak NYA.

Ya..halte..buat ku adalah sebuah tempat tujuan meski hirarkinya dia memang bukan tujuan akhir dari suatu perjalanan. Tentu saja terminal lah tujuan akhir seluruh trayek angkutan bukan? Yang hingga saat ini masih ku tak mau tentukan terminal itu akan berakhir dimana. Karena terminal berarti BERHENTI. Dan berhenti berarti MATI. Karena mati belum jadi pilihanku jadi kutetapkan untuk terus menuju “halte” lain.

Meski saat ini halte itu tidak terasa luar biasa sekali, tapi aku cukup puas dan beruntung dengan semua yang telah kulewati. Karyawan swasta perusahaan yang sangat-sangat ga tenar amat dengan gaji yang cukup buat bayar seluruh cicilan kartu kredit dan KPR, dengan tambahan beberapa kali perjalanan dinas yang cukup untuk beli rokok satu slop saja, alhamdulillah masih bersisa untuk membiayai seorang istri dan seorang puteri yang terus meneriakiku layaknya kondektur bus kala bus sudah miring ke kiri *nampak seperti lagu apa yak?*
Berawal dari kuli jaga di sebuah usaha kecil-kecilan bersama teman dengan gaji yang cuma 300ribu dan berlokasi di garasi rumahan, sampai tiba-tiba menginjak dan berkantor di sebuah gedung di kawasan Sudirman.
Dari mulai seorang lajang yang ditinggal kawin pujaan hati karena dianggap masa depan suram oleh calon mertua yang nggak jadi, sampai menikah di gedung mewah lengkap dengan perayaan tradisi jawa favorite bapak dan dihadiri banyak tamu terhormat *pastinya bukan tamu gue nich..hehe* Hingga lahir si buah hati sang inspirator sejati yang dititipkan NYA pada perkawinan kita. Dan semua terjadi sangat-sangat tak pernah terencana..

Mungkin kalo mau diberi warna tuh buku nasib, lebih hitam daripada Djarum Black sepertinya. Kenapa hitam? Ya, hitam layaknya malam.. gelap.. Disinilah saya merasa sangat-sangat beruntung. Ternyata dibalik gelapnya hitam, tidak selalu akan menemukan suram. Layaknya pepatah mengatakan, habis gelap terbitlah terang.. seperti itulah kira-kira perjalanan dari halte ke halte kujalani.

Pada prinsipnya, bagi ku hidup hanya satu kali, nikmatilah.. Teruslah berjalan meraih “halte” berikutnya…Meski datang saat gelap meradang, pasti pagi selalu menjelang..

Smell, sweat, black, slim

•Desember 6, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kira-kira itulah cerita perjalanan saya hari ini. semua terkait erat dengan empat kata sesuai judul. biar efek puitisnya lebih terasa, sengaja saya menuliskannya dalam bahasa inggris, dengan kesamaan huruf depan nya yaitu 3 S 1 B. Kenapa 3 S 1 B ?

Smell, seharian ini saya banyak berkegiatan dalam kerumunan yang menunggu sesuatu yang sama *bilang antri aja susah bener*. Nah dalam antrian itu, terdapat berbagai macam smell *baca: bau badan* yang sangat beragam. namun entah kenapa, tetap onion smell *baca: bau badan aroma bawang* yang paling mendominasi. Heran juga saya, kenapa mayoritas BB *bukan blackberry lho* orang Indonesia memiliki “aroma” demikian. Atau jangan-jangan aroma itu berasal dari tubuh saya sendiri? Tapi setelah saya berusaha menyelidiki dengan sembunyi-sembunyi mengendus-endus ketiak sendiri, ternyata …. aroma saya jauh lebih nikmat timbang aroma bawang *maaf, ini bukan narsis tapi memang kenyataan, ketiak saya terbuka lebar bagi siapa saja yang perlu pembuktian :D *

Sweat, menyambung kegiatan yang bersinggungan dengan smell diatas, tentu saja ini menghasilkan suatu cairan *baca: keringat* dari tubuh akibat reaksi tubuh terhadap suhu sekitar antrian yang cukup panas. Dari hasil pengamatan saya selama dalam kerumunan antrian, ternyata tidak semua orang memiliki kapasitas produksi yang sama. Saya termasuk yang berkapasitas produksi tinggi sepertinya *hayo..siapa yang perlu bahan mentah keringat untuk bahan produksi? Silahkan hubungi saya..hehe* Bayangkan saja, dengan hanya berdiri dalam kerumunan dan tidak melakukan apa-apa, kurang lebih 1 liter keringat bisa dihasilkan dari perasan baju saya yang kuyup.

Black alias hitam, ini terjadi karena kerumunan antrian berada tepat di bawah terik matahari tanpa adanya DPR  (Dibawah Pohon Rindang) yang menaungi. Tentu saja ini membuat warna kulit saya menjadi hitam dengan warna dasar awal kulit saya yang coklat manis *demikian beberapa teman menyebut warna kulit yang saya miliki, bukan hitam manis lho..tapi coklat manis* Pikir-pikir nggak salah juga mereka menyebut warna kulit saya coklat manis. Karena memang coklat adanya. Kalo hitam, ya mustinya sehitam Djarum Black. Dan notabene, wangi coklat memang cenderung terbayang manis meski bila dicicipi rasanya sangatlah pahit. Silahkan coba cium bubuk coklat masakan.

Slim, dengan lancarnya pembakaran kalori dibawah tempaan sinar matahari yang konsisten dalam antrian yang bergerak hanya semeter dalam semenit, tentu saja saya berharap hal ini memberi dampak positif terhadap tubuh saya yang sangat tidak slim ini *mau bilang gendut susah bener yak? :D * Tentu saja slim alias kurus menjadi impian saya, dan hal inilah yang membuat saya mampu bersabar berlama-lama tetap tenang dalam macetnya antrian tadi dengan segala macam problematika dan dinamika nya *lebay dikit boleh donk??*

Ditambah lagi dengan aroma rokok yang melekat di badan saya menjadikannya lebih sensasional daripada sekedar aroma bawang. Konon, beberapa parfum memiliki keistimewaan semakin bercampur dengan aroma rokok, semakin istimewa wangi yang dihasilkan dari perpaduan dua senyawa aroma tersebut. Dan saya salah satu yang mempercayai hal ini.

Cerita hujan

•Desember 3, 2009 • & Komentar

Aku dingin Yah..Aku lapar..

Tahan Nak..Sebentar lagi hujan reda..Kamu harus tahan ya?

Hujan ini tidak seberapa dibanding jalan hidupmu kelak. Pakai saja semua perlengkapan anti hujan yang sudah kupersiapkan untuk mu. Untuk kita semua siap menempuh perjalanan di tengah hujan ini. Anggap saja ini bagian pelajaran yang harus kamu lalui bersama aku, ayah mu. jangan kau iri dengan mereka yang duduk nyaman dalam jok sedan di tengah guyuran hujan ini. Kelak kau akan lebih kuat dari mereka. Yang terpenting adalah, saat ini. Di saat kau kedinginan, badan ku masih cukup untuk menghangatkanmu. Di saat kau lapar, rezeki ku masih cukup menafkahi mu. Karena aku tahu, kita pasti mampu. Usah kau dengar semua berucap kasihan padamu namun tanpa bukti membantu. Kita lah yang menjalani. Sakit dan sehat, badan kita tetap obat terbaik. Selebihnya, urusan yang Maha Kuasa.

Toh kita masih tertawa dan bercanda sambil membayangkan nikmatnya teh dan rendaman air hangat di ember kesayanganmu setiba di rumah nanti.

*saat puteri tercinta mengeluh kedinginan dan kelaparan sewaktu berteduh setelah terguyur hujan di tengah perjalanan berkendara roda dua*

Sampah dan energi

•November 13, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

lighter.2002_0129_013251Pagi tadi, gua kaget..sewaktu enak-enaknya makan nasi uduk langganan di stasiun, tiba-tiba ibu sebelah yang memesan gorengan menolak pesanannya yang sudah dibungkus kertas pembungkus makan *yang warna coklat glossy itu lho..* untuk dibungkus (lagi) dengan plastik. Yang bikin gua takjub, dia bilang “ga usah dibungkus plastik lagi mba..biar sampah Jakarta ga makin numpuk” Saluuuttt….bravoo… Trus gua sendiri gimana? *mikir.com* Apa yang udah gua lakukan untuk mengurangi sampah ?

Usik punya usik, setiba gua di kantor gua bakar rokok dan mencari korek api di laci meja kesayangan *kesayangan kantor lah..wong bukan milik pribadi* Dan alangkah terkejutnya gua melihat tumpukan korek api yang sebagian besar sudah ga bisa dipakai. Ada yang batu api nya aus, knop gas nya patah, dll. Ahaa…. *kalo di kartun keluar gambar lampu di atas kepala ..* Inilah saatnya gua beraksi *narsis kumat* Kalo si ibu tadi dia mengurangi sampah dengan tidak menggunakan plastik yang tidak perlu, kalo gua, apa ya?? *masih belum full idenya..hihihi* cuma ada korek api yang bejibun doank. Lantas mau diapakan nich sampah *korek gas maksudnya* ? Gua coba perhatiin tuh sampah. Weleh..ternyata nggak semua korek emang habis gas nya..malah masih ada yang terisi penuh tapi karena batu api nya rusak, dinobatkanlah dia menjadi sampah. Hmmmm…. berbekal pisau ala Macgyver *ogah nyebut merek ah* gua coba otak-atik tuh korek.

Satu korek, dua korek, tiga korek yang berlainan jenis. Jenis nya ada yang pemantik batu api dan magnetik *itu lho..yang kalo dipencet keluar percikan semacam listrik..* Dari jenis apinya, ada yang benuk api biasa dan bara. Gua bongkar semua sampai “telanjang”. Ternyata dari hasil bongkar, gua bisa “mengawinkan” spare part dari satu korek ke yang lainnya.

Yah..hari pertama cukup dua korek api (yang masih ada gasnya) bisa berfungsi kembali karena pertukaran spare part tadi. Jadi, selain mengolah sampah yang ada, gua juga berhasil *meskipun efeknya cuma buat gua sendiri* menghemat energi..ya..energi gas alam yang secara ga sadar sering kita buang-buang cuma karena korek api kita rusak spare partnya dan ga bermanfaat lagi buat mengasapi dunia *baca: merokok*.