Ole-ole kalimantan

•November 11, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sedikit mencoba mengulas makanan kali ini. Hmmm…mendadak lapar, padahal baru ngebayangin doang :D … Daerah Kalimantan Timur cukup kaya akan jenis kuliner yang menurut gua agak kurang terekspos sampai ke Jakarta. Kenapa Jakarta ? Ya karena ada pepatah bilang “jual apa aja di Jakarta pasti laku..” Ironisnya, belum pernah gua temuin tuh makanan yang khas di Kalimantan Timur di jual di Jakarta (apa karena gua ga gaul kali yeee :D ). Baiklah tanpa panjang lebar, kita kupas satu per satu (buah kalii dikupas..)

1. Dendeng rusa.

Kalimantan timur tergolong provinsi yang masih kaya akan hasil hutan, termasuk kayu, rotan dan berbagai jenis hewan yang layak konsumsi seperti rusa, kancil, kerbau liar, dll. Kenapa hewan tersebut layak di konsumsi (setidaknya bagi masyarakat lokal), menurut gua sih karena mahalnya moda trasnportasi di sana dengan kondisi jalan yang belum semulus di Jawa. Walhasil, harga daging dari rumah jagal pun melambung tinggi karenanya untuk sampai di konsumen yang notabene hidup di banyak pelosok Kalimantan. Di daerah yang kebetulan sering gua datangin yaitu Bengalon (kayanya di atlas nasional pun belum nongol tuh..hehe..), meskipun tidak banyak namun mata pencaharian sebagai pemburu rusa cukup layak sebagai sumber penghidupan yang lumayan tinggi untuk ukuran Indonesia (jauh diatas standar biaya hidup Jakarta). Dendeng rusa sebagai salah satu output akhir dari rusa merupakan barang ole-ole yang cukup dicari di Bengalon. Meski hanya berbentuk gumpalan daging yang sudah menghitam (akibat proses pemanggangan) dan berbalut lumuran garam halus, yang sangat-sangat tidak indah rupanya namun dendeng rusa akan mencapai puncak kenikmatannya saat di goreng secara sempurna..hmmmm…. Kekenyalannya sendiri sangat bergantung pada umur rusa, maksudnya semakin muda rusa, semakin empuk pula daging dendeng nantinya. Lalu timbul pertanyaan, sampai kapan rusa-rusa itu akan bertahan kelangsungan hidupnya jika tidak dikembangbiakan atau dipelihara dalam konsep konservasi. Dari informasi di pasar, gua melihat harga dendeng cenderung meningkat drastis akibat semakin sulitnya perburuan menemukan hasil. Dengan merambahnya populasi penduduk di pelosok-pelosok hutan, semakin tersingkir pula populasi rusa di Kalimantan Timur umumnya, dan Bengalon khususnya. Sepertinya ini harus menjadi pe-er bapak-bapak di pemerintahan kali ya..supaya dendeng rusa bisa tetap bisa kita nikmati dengan harga terjangkau ..*lho..kok concernnya malah ekonomis bukannya konservasi?*

Oh ya..sekedar sharing nich..daging rusa sangat tidak kalah nikmatnya jika diolah menjadi tongseng, sate bahkan dibuat steak sekalipun… Tentang resepnya..nanti akan diulas di tulisan berikutnya *hayaaahhh..*

2. Gula aren

Selain sebagai bahan dasar dari tuak (sejenis minuman keras hasil fermentasi getah aren), getah aren juga populer disajikan sebagai gula padat (biasa disebut gula merah). Salah satu manfaat gula merah berbahan getah aren ini sangat baik untuk dikonsumsi bagi penderita gangguan pencernaan atau maag. Penduduk lokal percaya, mengingat sifatnya yang absorben (menyerap cairan) sehingga mampu menyerap racun dan gas yang mengganggu dalam pencernaan.

3. Beras ladang

Meski sama-sama bernama beras, beras ladang sangat jauh berbeda rasanya dengan beras sawah. Beras yang ditanam di ladang berpindah ini jauh lebih pulen daripada beras sawah meski tumbuh di lokasi tanpa air. Lokasi penanaman biasa di lereng-lereng bukit dengan kemiringan lahan yang cukup drastis sehingga air tidak akan menggenang yang malah akan mengganggu pertumbuhan padi ladang ini. Seiring dengan pembukaan lahan ini berdampak pada maraknya ilegal loging guna memenuhi kebutuhan akan lahan tanamnya. Hmmm… lagi-lagi konsep konservasi malah jadi batu sandungan untuk sesuatu yang dinanti penikmat kuliner *khususnya saya..* Ohhh.. i miss this rice so much..*lebay :D *

Sepertinya cukup dulu ah mengulas kerinduan akan ole-ole ini. Mohon maaf belum bisa tampilkan foto-fotonya. Mungkin kesempatan jalan-jalan ke sana yang akan datang, gua sempatin *kalo pas ada barangnya* buat ambil gambar deh.. Eh kok macam orang curhat aja nich ? :D Anyway..salah satu prinsip gua dalam melakukan perjalanan khususnya ke tempat-tempat baru adalah.. lu belum pernah ke tempat itu kalo belum makan makanan khas nya.. Jadi, jangan lupa untuk selalu cari makanan khas setiap daerah yang kalian kunjungi *sotoyyyy..banget ya gua?* Ciaoooo..happy hunting ole-ole *baca: makanan khas*

Smell, sweat, black, slim

•Desember 6, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kira-kira itulah cerita perjalanan saya hari ini. semua terkait erat dengan empat kata sesuai judul. biar efek puitisnya lebih terasa, sengaja saya menuliskannya dalam bahasa inggris, dengan kesamaan huruf depan nya yaitu 3 S 1 B. Kenapa 3 S 1 B ?

Smell, seharian ini saya banyak berkegiatan dalam kerumunan yang menunggu sesuatu yang sama *bilang antri aja susah bener*. Nah dalam antrian itu, terdapat berbagai macam smell *baca: bau badan* yang sangat beragam. namun entah kenapa, tetap onion smell *baca: bau badan aroma bawang* yang paling mendominasi. Heran juga saya, kenapa mayoritas BB *bukan blackberry lho* orang Indonesia memiliki “aroma” demikian. Atau jangan-jangan aroma itu berasal dari tubuh saya sendiri? Tapi setelah saya berusaha menyelidiki dengan sembunyi-sembunyi mengendus-endus ketiak sendiri, ternyata …. aroma saya jauh lebih nikmat timbang aroma bawang *maaf, ini bukan narsis tapi memang kenyataan, ketiak saya terbuka lebar bagi siapa saja yang perlu pembuktian :D *

Sweat, menyambung kegiatan yang bersinggungan dengan smell diatas, tentu saja ini menghasilkan suatu cairan *baca: keringat* dari tubuh akibat reaksi tubuh terhadap suhu sekitar antrian yang cukup panas. Dari hasil pengamatan saya selama dalam kerumunan antrian, ternyata tidak semua orang memiliki kapasitas produksi yang sama. Saya termasuk yang berkapasitas produksi tinggi sepertinya *hayo..siapa yang perlu bahan mentah keringat untuk bahan produksi? Silahkan hubungi saya..hehe* Bayangkan saja, dengan hanya berdiri dalam kerumunan dan tidak melakukan apa-apa, kurang lebih 1 liter keringat bisa dihasilkan dari perasan baju saya yang kuyup.

Black alias hitam, ini terjadi karena kerumunan antrian berada tepat di bawah terik matahari tanpa adanya DPR  (Dibawah Pohon Rindang) yang menaungi. Tentu saja ini membuat warna kulit saya menjadi hitam dengan warna dasar awal kulit saya yang coklat manis *demikian beberapa teman menyebut warna kulit yang saya miliki, bukan hitam manis lho..tapi coklat manis* Pikir-pikir nggak salah juga mereka menyebut warna kulit saya coklat manis. Karena memang coklat adanya. Kalo hitam, ya mustinya sehitam Djarum Black. Dan notabene, wangi coklat memang cenderung terbayang manis meski bila dicicipi rasanya sangatlah pahit. Silahkan coba cium bubuk coklat masakan.

Slim, dengan lancarnya pembakaran kalori dibawah tempaan sinar matahari yang konsisten dalam antrian yang bergerak hanya semeter dalam semenit, tentu saja saya berharap hal ini memberi dampak positif terhadap tubuh saya yang sangat tidak slim ini *mau bilang gendut susah bener yak? :D * Tentu saja slim alias kurus menjadi impian saya, dan hal inilah yang membuat saya mampu bersabar berlama-lama tetap tenang dalam macetnya antrian tadi dengan segala macam problematika dan dinamika nya *lebay dikit boleh donk??*

Ditambah lagi dengan aroma rokok yang melekat di badan saya menjadikannya lebih sensasional daripada sekedar aroma bawang. Konon, beberapa parfum memiliki keistimewaan semakin bercampur dengan aroma rokok, semakin istimewa wangi yang dihasilkan dari perpaduan dua senyawa aroma tersebut. Dan saya salah satu yang mempercayai hal ini.

Cerita hujan

•Desember 3, 2009 • & Komentar

Aku dingin Yah..Aku lapar..

Tahan Nak..Sebentar lagi hujan reda..Kamu harus tahan ya?

Hujan ini tidak seberapa dibanding jalan hidupmu kelak. Pakai saja semua perlengkapan anti hujan yang sudah kupersiapkan untuk mu. Untuk kita semua siap menempuh perjalanan di tengah hujan ini. Anggap saja ini bagian pelajaran yang harus kamu lalui bersama aku, ayah mu. jangan kau iri dengan mereka yang duduk nyaman dalam jok sedan di tengah guyuran hujan ini. Kelak kau akan lebih kuat dari mereka. Yang terpenting adalah, saat ini. Di saat kau kedinginan, badan ku masih cukup untuk menghangatkanmu. Di saat kau lapar, rezeki ku masih cukup menafkahi mu. Karena aku tahu, kita pasti mampu. Usah kau dengar semua berucap kasihan padamu namun tanpa bukti membantu. Kita lah yang menjalani. Sakit dan sehat, badan kita tetap obat terbaik. Selebihnya, urusan yang Maha Kuasa.

Toh kita masih tertawa dan bercanda sambil membayangkan nikmatnya teh dan rendaman air hangat di ember kesayanganmu setiba di rumah nanti.

*saat puteri tercinta mengeluh kedinginan dan kelaparan sewaktu berteduh setelah terguyur hujan di tengah perjalanan berkendara roda dua*

Sampah dan energi

•November 13, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

lighter.2002_0129_013251Pagi tadi, gua kaget..sewaktu enak-enaknya makan nasi uduk langganan di stasiun, tiba-tiba ibu sebelah yang memesan gorengan menolak pesanannya yang sudah dibungkus kertas pembungkus makan *yang warna coklat glossy itu lho..* untuk dibungkus (lagi) dengan plastik. Yang bikin gua takjub, dia bilang “ga usah dibungkus plastik lagi mba..biar sampah Jakarta ga makin numpuk” Saluuuttt….bravoo… Trus gua sendiri gimana? *mikir.com* Apa yang udah gua lakukan untuk mengurangi sampah ?

Usik punya usik, setiba gua di kantor gua bakar rokok dan mencari korek api di laci meja kesayangan *kesayangan kantor lah..wong bukan milik pribadi* Dan alangkah terkejutnya gua melihat tumpukan korek api yang sebagian besar sudah ga bisa dipakai. Ada yang batu api nya aus, knop gas nya patah, dll. Ahaa…. *kalo di kartun keluar gambar lampu di atas kepala ..* Inilah saatnya gua beraksi *narsis kumat* Kalo si ibu tadi dia mengurangi sampah dengan tidak menggunakan plastik yang tidak perlu, kalo gua, apa ya?? *masih belum full idenya..hihihi* cuma ada korek api yang bejibun doank. Lantas mau diapakan nich sampah *korek gas maksudnya* ? Gua coba perhatiin tuh sampah. Weleh..ternyata nggak semua korek emang habis gas nya..malah masih ada yang terisi penuh tapi karena batu api nya rusak, dinobatkanlah dia menjadi sampah. Hmmmm…. berbekal pisau ala Macgyver *ogah nyebut merek ah* gua coba otak-atik tuh korek.

Satu korek, dua korek, tiga korek yang berlainan jenis. Jenis nya ada yang pemantik batu api dan magnetik *itu lho..yang kalo dipencet keluar percikan semacam listrik..* Dari jenis apinya, ada yang benuk api biasa dan bara. Gua bongkar semua sampai “telanjang”. Ternyata dari hasil bongkar, gua bisa “mengawinkan” spare part dari satu korek ke yang lainnya.

Yah..hari pertama cukup dua korek api (yang masih ada gasnya) bisa berfungsi kembali karena pertukaran spare part tadi. Jadi, selain mengolah sampah yang ada, gua juga berhasil *meskipun efeknya cuma buat gua sendiri* menghemat energi..ya..energi gas alam yang secara ga sadar sering kita buang-buang cuma karena korek api kita rusak spare partnya dan ga bermanfaat lagi buat mengasapi dunia *baca: merokok*.

Narkoba, Kenali dan hindari

•November 10, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

1. Stimulan

a. Amphetamine Type Stimulant (ATS).b972 10

Nama lain : Speed, Ice, Crystal, Crank, Essence, Ecstaxy (MDMA), Shabu (MA), Adam, Clarity.

Nama farmakologi : Dexedrine, benzodrine, desoxine, methedrine.

b. Kokainsnort_cocaine

Nama lain : Coke, Crack, Snow, Rock, Cocaine, Flake.

Nama farmakologi : Cocaine

2. Halusinogen

ganja1(2)a. Cannabinoid

Nama lain : Marijuana, Dope, Weed, Hemp, Hash, Cimeng, Pot, Maryjane, Colombian, Sinsemilla, Ganja, Batang, Gelek, Grass, THC, LSD.

Nama farmakologi : Marinol.

b. Phencyclidine

Nama lain : Angel Dust, Crystal Cyclone, PCP-HOC, Killer Weed.

Nama farmakologi : Phenicyclidine.

3. Depresan

a. Opiat

Nama lain : Smack, Tiger, Horse, White Lady, White Stuff, Opium, Junk, Putaw, Scaq, Morpho.m.

Nama farmakologi : Dilaudin, Percodan, Oxycodone, Metadon.

b. Barbiturat

Nama lain : Bennies, Rophies, Pil koplo.

Nama farmakologi : Ativan, Halcion, Librium, Novopoxide-Vivol, Remestan, Restoril, Rohypnol, Valium, Vivol, Xanax.

Dengan hati

•November 6, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

benderaBeberapa hari terakhir, saya menonton cukup sering tayangan tentang kisruhnya hukum di Indonesia. Lebih tepatnya mungkin kisruh lembaga aparatur negara dalam koridor hukum. Sebagai orang awam hukum, saya terus terang bingung dengan apa yang terjadi. Bukankah sudah merupakan hal biasa jika beberapa pihak bekerjasama dalam konteks profesionalisme mengalami benturan atau friksi. Jangankan lembaga pemerintahan, contoh kecil di organisasi swasta (perusahaan) sering kita temukan kisruh model sejenis. Yang membedakan adalah lingkup kerja dan tanggungjawab sosialnya. Karena aparat pemerintah bekerja dalam pelayanan publik, maka secara gamblang publik berhak untuk mengikuti perkembangan apa yang sedang terjadi. Disini saya membatasi hanya pada beberapa issu yang cukup berkembang dan menjadi pergunjingan sampai kasus ini terus bergulir yaitu: rekayasa, people power dan transparansi.

Sudah barang tentu semua yang kita kerjakan adalah sebuah rekayasa.

re·ka·ya·sa /rékayasa/ n 1 penerapan kaidah-kaidah ilmu dl pelaksanaan (spt perancangan, pembuatan konstruksi, serta pengoperasian kerangka, peralatan, dan sistem yg ekonomis dan efisien); 2 ki rencana jahat atau persekongkolan untuk merugikan dsb pihak lain: ia menjadi terdakwa krn — yg dilakukan tetangganya;

Bayangkan jika kita melakukan segala sesuatu (pekerjaan) tanpa rekayasa sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa kacaunya pekerjaan kita tanpa sebuah rekayasa. Jadi, isu rekayasa disini sangat tidak pas dan tepat untuk digunjingkan. Baik buruknya hasil sebuah pekerjaan (dalam hal ini pelayanan publik) adalah murni harus berdasar pada obyektifitas yang sebenar-benarnya oleh si pengguna jasa. Anggap saja, dalam hal ini sebuah institusi pemerintahan memang bertugas dalam hal melakukan proses hukum terhadap seseorang / organisasi / pihak tertentu. Tentu saja semua upaya harus direncanakan (baca: direkayasa) dengan baik agar tercapainya hasil sesuai dengan skala prioritas institusi tersebut. Dalam hal ini prioritas utamanya adalah pelayanan kepada masyarakat yang luas ketimbang kepentingan pribadi atau salah satu golongan saja. Concern saya adalah, apa tolak ukur dari kepentingan pubik ini sudah terdefinisi dengan jelas ? Siapa yang harus melakukan study kepuasan pelayanan publik ini sehingga segala bentuk pelayanan kepentingan publik ini memiliki akuntabilitas yang jelas ? Nah untuk itu, menurut saya, sangat diperlukan sebuah rekayasa agar dapat menentukan perimeter kepuasan pelayanan publik dari setiap aparatur pemerintahan.

Terus terang saya sangat kurang paham tentang apa yang saat ini sering dibicarakan khalayak tentang people power. Hanya prakiraan dan asumsi saya saja yang kemudian menyimpulkan bahwa people power adalah sebuah upaya kekuasaan yang benar-benar didasari dari jalinan interaksi sosial sekelompok orang yang belum tentu memiliki kesamaan kehendak, tujuan dan maksud dari interaksi sosial tersebut dan berdampak negatif terhadap tatanan kekuasaan yang sudah ada. Dengan kata lain tujuan dari people power ini lebih berupa upaya penggulingan kekuasaan atau tatanan yang sudah ada. Tidak sedikit pula yang menyebutnya sebagai upaya perubahan dari sebuah kejenuhan akan situasi dan kondisi yang ada. Jika dikaitkan dengan isu rekayasa diatas, apakah people power tidak memerlukan rekayasa? Jawaban yang timbul bisa ya, bisa tidak.

Menurut saya, transparansi lah yang harus “bertanggungjawab” atas apa yang sudah terjadi dalam rangkaian peristiwa kisruhnya hukum saat ini di Indonesia. Transaparansi atau sebut saja keterbukaan, yang sudah kebablasan karena tidak seiring dengan pembekalan edukasi yang layak bagi seluruh masyarakat. Kita selalu meniru dan mencontek sebuah budaya luar dengan tidak melakukan assesment yang baik terhadap dampak-dampak yang berpotensi TERJADI. Di luar negeri khususnya negara maju, kita sering melihat arus perdebatan akibat keterbukaan arus informasi yang terjadi di sana. Tapi kita harus ingat bahwa mereka melakukan hal tersebut (keterbukaan) tidak dalam jangka waktu yang belum lama. Lalu siapa yang harus bertanggujawab atas segala yang terjadi? Lagi-lagi saya sebegai masyarakat yang sangat awam hukum tidak tahu harus berbuat dan bertindak bagaimana terhadap simpang siurnya informasi yang ada. Padahal sebagai warga negara yang baik, dalam situasi kritis, kita wajib melakukan bela negara bukan malah meruntuhkannya.

Dalam perspektif saya, cukuplah masyarakat dibebani dengan beban hidup dalam keseharian mereka saja. Bukan berarti hal ini melakukan pembodohan terhaap masyarakat dengan menutupi apa yang terjadi, namun lebih kepada upaya menjaga keutuhan negara yang beranggotakan 200-an juta orang masyarakat yang belum tentu separuhnya mendapatkan pendidikan yang cukup layak dalam memahami persoalan kenegaraan yang terjadi.

Ah..kenapa pula saya ikut-ikutan ngawur seperti ini? Toh sudah ada perwakilan rakyat beserta media yang saya harap masih punya tekad untuk memberikan yang terbaik bagi negeri. Dengan memahami latar belakang sosial para penggunanya, secara mendalam … dengan HATI.

Aing dibere sapoe deui euy…

•November 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Setiap hari di stasiun kereta saya selalu melihatnya. Diantara penumpang antri yang semerbak wangi, dia, dengan pakaian kumelnya yang sama sekali tidak menandakan bahwa dia bekerja untuk pihak stasiun. Setiap pagi selalu dengan aktifitas yang sama, membersihkan rel kereta api dari apa saja. Terkadang saya melihatnya sedang mencabuti rumput, hari yang lain mengambil sampah dan puntung rokok, hari lainnya lagi membersihkan baut rel yang berkarat sambil mengolesinya dengan pelumas.

Pagi itu. Tak luput wajahnya yang bergaris cukup keras dari basuhan peluh di setiap pagi yang kutemui. Disela sekaan tangannya akan peluh diwajahnya, semburat senyumnya menghias sambil melontarkan kalimat “aing dibere sapoe deui euy..” yang artinya kurang lebih : Aku masih diberi sehari lagi nih. Semua terucap begitu penuh dengan rasa puas, mengasyikan, luar biasa dan penuh kenikmatan tiada tara. Entah berbicara dengan siapa, tak nampak seorangpun yang sedang diajaknya bicara. Dengan segenap rasa penasaran, saya pun memberanikan diri bertanya kepadanya.

“Kunaon mang?’ Emang rek habis kontrak kerja?”

“Henteu Kang” Tak luput senyum malu-malu tersirat diwajahnya seolah merasa ocehannya didengar orang lain. Ocehan yang memang seharusnya bukan untuk konsumsi siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri atas “kontrak hidup” yang masih diberikan oleh NYA untuk sehari ini. Hanya hari ini, entah esok. Apakah masih bisa mengucap “Aing dibere sapoe deui euy..” Mencabuti rumput dan mengolesi pelumas rel kereta hanya dengan secarik kaos belel dan celana rombeng tanpa hiasan dunia lainnya yang bergelimang cahaya hedonis. Bermandikan keringat dibawah pancaran surya yang begitu dia nikmati dan syukuri tanpa hembusan AC dan meja kerja yang penuh intrik-intrik ala tikus kantor.

Stasiun kereta

•November 4, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Entah kenapa, stasiun kereta mempunyai aura special tersendiri bagi saya. Begitu nyaman rasanya setiap kali menunggu kereta tiba. Meski waktu kedatangan masih sangat lama, tetap saja stasiun mampu membuat saya berlama-lama menunggu.
Lantai keramik, sound system sember, deretan kaki lima dan asongannya. Oh ya, ditambah pula sekumpulan pengamen sedang share lagu untuk “show” berikutnya.
Sekali waktu sempat juga saya ikut request lagu kepada mereka. Saat dimana kita bersama menunggu satu kereta yang sama. Kala menuju satu tujuan, satu maksud dan keinginan, backpacker… I really miss it much..

mohon maaf

•September 8, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

bukan bermaksud menggoda iman blogger yg kebetulan mampir (kebetulan berpuasa jga)..sekedar iseng ganti theme aja kok..hehehe..selamat berpuasa dan tetap berkarya *hayah..ceramah kok pake theme pisang segala*

Unearth

•Juli 31, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

we were naked and laying under the tribe motive blanket that she have from her homeland. we were wishing the same thing, that the clock stop clicking. the wind blows softly as erotic as tropical common weather in the room without any air conditioner installed. Her mysterious smile that fall beneath her sharp nose that makes one state of the arts monalisa smile of mine. the droppy eyes that set a mind at rest that I couldn’t turn it out of my sight.

this kind of weather season will always remembering me of her. weather of hot air that traveling so freely. blows our mind so wildly. without anything blocking its way, as my heart told me to do all those things happened between us. just happened like that. with no logical intervention just heart and act. we’re not separated at the moment, but not also united in the others. we’re floating at begin and flying at the end, with no gravity tight us. gravity of the world that we don’t want to.

we were living in earth but we facing it so unearth.